Dilema _ Semua Memang Salahku

Minggu, 24 Maret 2013

A Letter to A Princess



Dear Princess………

Ada yang ingin saya tulis ketika kata kata dalam kepalaku mulai kesepian makna. Dibalik dinamisnya rasa cinta, menulis adalah caraku mengabadikan dirimu. Terkadang kata-kata suka berpura-pura, namun bukankah yang terpenting adalah bagaimana dia memberi pengaruh baik pada semesta dan sekitarnya? Yah begitulah kira-kira yang ingin saya tuangkan di tulisan ini.

Sekian lama aku terdiam…. Kupikir semua itu cukup, karena sungguh aku cukup merasa senang jika kau bahagia, lalu kulihat kau berduka, terluka karena cinta yang salah atau waktu yang tidak berpihak pada bahagiamu semata. Bahkan ketika dirimu menjadi rebutan para Ksatria…. Entah, namun aku tahu itu menyusahkan hatimu andaikan waktu berpihak pada cintaku, entah nanti entah berapa lama lagi. Tahukah kamu apa yang sangat ingin kukatakan…. Tahukah kau bagaimana rasanya mendoakanmu yang tanpa kenal waktu dan tanpa tahu apakah engkau tahu. 

Tahukah kau arti mencintaimu? seperti ingin bersuara bahagiamu adalah bahagiaku juga. Aku ingin sedikit saja membuatmu tertawa namun waktu selalu lebih dulu membuat seseorang lebih dekat denganmu. Aku ingin mengenal hatimu namun hatiku sendiri seolah berkata tidak….. ini bukan saatnya. 

Jujur saya memang menyukai anda, Nona….. Memang suka itu belum tentu cinta. Namun tak mungkin akan langsung cinta tanpa didahului oleh suka. Ada beberapa hal yang sebaiknya memang tak perlu dikatakan. Karena tidak menjawab bukan berarti berbohong kan??? Mungkin Nona akan menemukan jawaban yang jujur disetiap candaan yang sering kita lakukan dahulu. Meskipun cuma candaan Nona,  jika itu baik dan benar kuharap menjadi Do’a yang diantarkan Malaikat untuk Tuhan Aamiinkan.

Minggu, 17 Maret 2013

ADISTA _ Perasaanku

C G Am Em

Ketika kau tertawa ku pandang dengan pasti

F G C

Oh dirimu menarik hati … ku

C G

Dan biarkan ku menatapmu

Am Em

Dengan perasaan ku

F G

Yang menggebu tiada henti

F C

Andaikan engkau mengerti

G C

Perasaanku saat ini

F C G

Namun engkau tak mengerti itu …

C G

Aku pemujamu di sini

Am Em

Yang tak engkau kenali

F G

Sedikitpun sepercikpun kini

C G

Dan biarkan ku menatapmu

Am Em

Dengan perasaan ku

F G

Yang menggebu tiada henti

F C

Andaikan engkau mengerti

G C

Perasaanku saat ini

F C G

Namun engkau tak mengerti itu …

Reff :
F G Em Am Dm

Menyusuri ruang hatimu yang tebal

G C

Tak dapat ku sentuh

F G Em Am Dm

Semua ini hanyalah angan – angan ku

G C

Yang terlalu jauh

F C

Andaikan engkau mengerti

G C

Perasaanku saat ini

F C G

Namun engkau tak mengerti itu

F G Em Am Dm

Menyusuri ruang hatimu yang tebal

G C

Tak dapat ku sentuh

F G Em Am Dm

Semua ini hanyalah angan – angan ku

G C

Yang terlalu jauh

F G Em Am

Ououoh.. tak adakah filling dirimu

Dm G C

Saat aku mencoba merayu

F G Em Am Dm

Semua ini hanyalah angan – angan ku

G C

Jumat, 11 Januari 2013

♥ KATA-KATA INSPIRATIF ♥




~KETIKA... Aku ingin hidup KAYA...
Aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.

~KETIKA...
Aku takut MEMBERI...
Aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.

~KETIKA...
Aku ingin jadi yang TERKUAT...
Aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN....
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

~KETIKA...
Aku takut RUGI...
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU...
Adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, karena AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah...
ketika kita selalu BERSYUKUR kepadaNYA

~BUKAN...
karena hari ini INDAH kita BAHAGIA...
Tetapi karena kita BAHAGIA...
maka hari ini menjadi INDAH.

~BUKAN...
karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS...
Tetapi karena kita OPTIMIS...
RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

~BUKAN...
karena MUDAH kita YAKIN BISA...
Tetapi karena kita YAKIN BISA... semuanya menjadi MUDAH.

~BUKAN...
karena semua BAIK kita TERSENYUM...
Tetapi karena kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK.

Tak ada hari yg MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yg membuat SULIT.

~BILA...
kita tidak dapat menjadi jalan besar...
cukuplah menjadi jalan setapak yang dapat dilalui orang.

~BILA...
kita tidak dapat menjadi matahari...
cukuplah menjadi lilin yang dapat menerangi sekitar kita.

~BILA...
kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang...
cukuplah berdoa untuknya.. :)

Rabu, 09 Januari 2013

Galeriku

Lejja on the way


Big Family Simtetik 7























Gerak jalan
On the way  "Tappareng'E"

Three Muskeeter

Pallette Bone

At Cafe Mari-Mari


Add caption


On the Road  "Lintas Provinsi"

Add caption























Note Kidding



Beberapa saat yang lalu, aku kembali diskusi teman satu tim kerja tentang pola kerja ku. Dia bilang sama aku “kamu tuh kerjanya cepet banget, aku baru kerja sampai disini, kamu dah kemana-mana!” Kalimat yang terucap oleh temanku itu seakan menohok diri, aku memang selama bekerja ini selalu cepet banget bergerak.
Selain karena aku memang sudah tidak kuliah lagi saat ini a.k.a sudah sarjana [hammer] narsisnya moh wkwkwkwk……, tapi juga karena aku belum kembali memiliki kekasih. Selama ini, aku bekerja total tanpa henti. Setiap detik dalam hidupku selalu ada pekerjaan, tidak ada seseorang yang mampu menghentikan diriku. Mungkin company merasa diuntungkan dengan pola kerjaku hahahahahh….toh yang jadi Bosssnya saya sendiri djie….:p, tapi kita kan juga memperhitungkan dan membandingkan dengan salary yang kita dapatkan.
Meskipun lulusan sekolah tinggi manajemen, Intinya, aku butuh manager hidup [ngarep]….. Seorang yang mampu mengingatkan bahwa diriku juga dibutuhkan oleh orang lain. Seorang yang menghentikan aku ketika aku berjalan terlalu cepat. Seorang yang menemani perjalanan hidupku. Kapan Tuhan mengizinkan aku menemukanmu, ketika semua bisa diraih dan dimiliki…Bukankah kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain?! Menemukanmu adalah harapan terbesar hidupku saat ini…
Aku tahu ini cuma sepenggal perjalanan panjang yang mesti dilewati. Setiap orang sedang menuju ke suatu tempat dengan caranya masing-masing. Pada tiap penggalan kita susun jadi bilik di sudut hati tempat kita mengais-ngais hikmah. Tidak ada yang salah dengan semua yang serba sederhana kita pahami, semua yang nampak percuma tapi bermakna. Kadang justru perasaan luar biasa itu, adalah bentuk ketakjuban pada sesuatu diluar kita, something we felt beyond ourself. Orang bijak bilang, butuh lebih banyak ketulusan dan kerendahan hati untuk mengapainya. Jadi? adakah yang lantas luar biasa karenanya?
Bahkan sajak sempurna adalah kesenyapan itu sendiri. Sesuatu yang menyelinap diam-diam, dan kita memahaminya meski tanpa diucapkan. Seperti sebuah eksistensi.
Juga cinta……

Prolog



Apa khabar?

Kutulis surat ini, sementara kubiarkan senyummu sesekali lindap di belakang benakku. Ingin kutulis semua yang tak satu potongpun bisa kusampaikan langsung padamu. Ketika tidak mungkin lagi aku menyentuhmu di luar bayangan yang ada di kepalaku sendiri.

Aku harus berhenti sejenak dari perjalanan kali ini, my solitary journey, perjalanan menemukan apa yang berharga dari hidup. Karena tiba-tiba ada yang terasa begitu dekat dan indah, membuncah-buncah di kepala dan dada, dengan kehadiranmu. Sampai batas tertentu aku tetap saja begerak antara superego, ego dan pertanyaan-pertanyaan yang harus aku jawab sendiri tentangmu. Dan sebuah ide yang tidak hanya bermakna tunggal. Tapi itu tidak mungkin lagi. Eksistensiku tidak punya arti apa-apa lagi buatmu, jika aku tetap bertahan seperti yang sering terlalu indah kubayangkan. Selalu saja kemudian aku merasa begitu tolol menafsirkan semuanya. Tidak pernah selesai dengan kalimat-kalimat pendek dengan satu kesimpulan.

Kita tak punya cukup mantera untuk menyihir dunia mimpi yang indah ini terus menerus. Kita bahkan kehabisan kata, lalu sesekali akan terucap bahwa cinta kita mungkin “nonsens”, pun rindu yang pahit ini. Dan aku tidak bisa bertahan pada batas mimpi dan kenyataan. Tak ada ruang, untuk menggemakan rindu yang menggigil, memanggilmu untuk datang. Seorang penyair menulis:
….
bukankah matahari telah bersalin dan
melahirkan kenyataan yang agak lain?
dan sebuah jadwal yang lain?
sebuah ranjang & ruang rutin, yang setia,
seperti sebuah gambar keluarga
(dimana kita, berdua, tak pernah ada?)


Bukankah kita sering kemudian lantas jadi lebih mudah lupa dan memaafkan? Oh tidak, barangkali kali ini bahkan tidak ada maaf. Tidak untuk sesuatu yang sekonyol yang bisa kubayangkan dari orang yang melihat tentang kita. Di sela-sela kode-kode program yang aku tulis, seringkali gemerlap pikiranmu atau kerling matamu menyelinap, membuatku mesti berhenti sejenak, sekedar menyeka peluh. Betapa susahnya ternyata, melakukan apa yang sering aku tertawakan sendiri, melupakanmu…

Tapi kamu tak perlu kuatir, ada mekanisme tertentu padaku yang diturunkan dari tradisi. Dimana pada tiap jebakan kebuntuan rasa dan nalar, aku melarikannya dengan menertawakan diri sendiri. Ah, betapa konyolnya…! But It works. Tidak semua hal memang bisa dijelaskan dengan sempurna: kenapa atau bagaimana. Kadang tetap saja tinggal seperti itu, apa adanya. Seperti karang dan lokan di laut sana, begitu saja ada, entah untuk apa disana, dan kita bisa menerimanya.

Aku mencurigai pikiranku sendiri. Seperti aku bilang, aku bisa jadi subversif dengan semua pikiranku tentangmu, misalnya dengan melepas semua atribut yang ada padamu, dan merampokmu habis-habisan. Kenapa setiap pikiran tentangmu singgah membenturi jidatku, aku selalu bilang sendiri, ah…semuanya akan baik-baik saja. Dan aku lihat semuanya jadi begitu manis, terlalu mengesankan untuk begitu saja dilewatkan. Aku senang bahwa itu karenamu. Tapi tentu aku akan lebih bahagia, kalau itu karena rasa syukur yang tak putus-putusnya pada-Nya, the Ultimate Love. Ini bukan ungkapan formal, karena aku memang lebih suka menyimak isyarat cinta yang dikirimkannya dari setiap bulir gerimis yang memerciki kaca jendela, di sebuah senja yang sederhana. Kalau saja bisa kukirimkan potongan senja seperti itu ke setiap orang yang aku cintai. Kalau saja ada sebuah ruang tanpa batas dimana rindu dan cinta bisa menggema sempurna, barangkali tak akan ada yang begini pahit, atau serasa percuma saja. Meski kita berdua tak ada disana.

Aku tahu ini cuma sepenggal perjalanan panjang yang mesti kita lewati. Setiap orang sedang menuju ke suatu tempat dengan caranya masing-masing. Pada tiap penggalan kita susun jadi bilik di sudut hati tempat kita mengais-ngais hikmah. Tidak ada yang salah dengan semua yang serba sederhana kita pahami, semua yang nampak percuma tapi bermakna. Kadang justru perasaan luar biasa itu, adalah bentuk ketakjuban pada sesuatu diluar kita, something we felt beyond ourself. Orang bijak bilang, butuh lebih banyak ketulusan dan kerendahan hati untuk mengapainya. Jadi? adakah yang lantas luar biasa karenanya?
Bahkan sajak sempurna adalah kesenyapan itu sendiri.
Sesuatu yang menyelinap diam-diam, dan kita memahaminya meski tanpa diucapkan.
Seperti sebuah eksistensi
juga cinta