Dilema _ Semua Memang Salahku

Jumat, 11 Januari 2013

♥ KATA-KATA INSPIRATIF ♥




~KETIKA... Aku ingin hidup KAYA...
Aku lupa,
bahwa HIDUP itu sendiri adalah sebuah KEKAYAAN.

~KETIKA...
Aku takut MEMBERI...
Aku lupa,
bahwa SEMUA yang aku miliki juga adalah PEMBERIAN.

~KETIKA...
Aku ingin jadi yang TERKUAT...
Aku lupa,
bahwa dalam KELEMAHAN....
Tuhan memberikan aku KEKUATAN.

~KETIKA...
Aku takut RUGI...
Aku lupa,
bahwa HIDUPKU...
Adalah sebuah KEBERUNTUNGAN, karena AnugerahNYA.

Ternyata hidup ini sangat indah...
ketika kita selalu BERSYUKUR kepadaNYA

~BUKAN...
karena hari ini INDAH kita BAHAGIA...
Tetapi karena kita BAHAGIA...
maka hari ini menjadi INDAH.

~BUKAN...
karena tak ada RINTANGAN kita menjadi OPTIMIS...
Tetapi karena kita OPTIMIS...
RINTANGAN akan menjadi tak terasa.

~BUKAN...
karena MUDAH kita YAKIN BISA...
Tetapi karena kita YAKIN BISA... semuanya menjadi MUDAH.

~BUKAN...
karena semua BAIK kita TERSENYUM...
Tetapi karena kita TERSENYUM maka semua menjadi BAIK.

Tak ada hari yg MENYULITKAN kita, kecuali kita SENDIRI yg membuat SULIT.

~BILA...
kita tidak dapat menjadi jalan besar...
cukuplah menjadi jalan setapak yang dapat dilalui orang.

~BILA...
kita tidak dapat menjadi matahari...
cukuplah menjadi lilin yang dapat menerangi sekitar kita.

~BILA...
kita tidak dapat berbuat sesuatu untuk seseorang...
cukuplah berdoa untuknya.. :)

Rabu, 09 Januari 2013

Galeriku

Lejja on the way


Big Family Simtetik 7























Gerak jalan
On the way  "Tappareng'E"

Three Muskeeter

Pallette Bone

At Cafe Mari-Mari


Add caption


On the Road  "Lintas Provinsi"

Add caption























Note Kidding



Beberapa saat yang lalu, aku kembali diskusi teman satu tim kerja tentang pola kerja ku. Dia bilang sama aku “kamu tuh kerjanya cepet banget, aku baru kerja sampai disini, kamu dah kemana-mana!” Kalimat yang terucap oleh temanku itu seakan menohok diri, aku memang selama bekerja ini selalu cepet banget bergerak.
Selain karena aku memang sudah tidak kuliah lagi saat ini a.k.a sudah sarjana [hammer] narsisnya moh wkwkwkwk……, tapi juga karena aku belum kembali memiliki kekasih. Selama ini, aku bekerja total tanpa henti. Setiap detik dalam hidupku selalu ada pekerjaan, tidak ada seseorang yang mampu menghentikan diriku. Mungkin company merasa diuntungkan dengan pola kerjaku hahahahahh….toh yang jadi Bosssnya saya sendiri djie….:p, tapi kita kan juga memperhitungkan dan membandingkan dengan salary yang kita dapatkan.
Meskipun lulusan sekolah tinggi manajemen, Intinya, aku butuh manager hidup [ngarep]….. Seorang yang mampu mengingatkan bahwa diriku juga dibutuhkan oleh orang lain. Seorang yang menghentikan aku ketika aku berjalan terlalu cepat. Seorang yang menemani perjalanan hidupku. Kapan Tuhan mengizinkan aku menemukanmu, ketika semua bisa diraih dan dimiliki…Bukankah kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain?! Menemukanmu adalah harapan terbesar hidupku saat ini…
Aku tahu ini cuma sepenggal perjalanan panjang yang mesti dilewati. Setiap orang sedang menuju ke suatu tempat dengan caranya masing-masing. Pada tiap penggalan kita susun jadi bilik di sudut hati tempat kita mengais-ngais hikmah. Tidak ada yang salah dengan semua yang serba sederhana kita pahami, semua yang nampak percuma tapi bermakna. Kadang justru perasaan luar biasa itu, adalah bentuk ketakjuban pada sesuatu diluar kita, something we felt beyond ourself. Orang bijak bilang, butuh lebih banyak ketulusan dan kerendahan hati untuk mengapainya. Jadi? adakah yang lantas luar biasa karenanya?
Bahkan sajak sempurna adalah kesenyapan itu sendiri. Sesuatu yang menyelinap diam-diam, dan kita memahaminya meski tanpa diucapkan. Seperti sebuah eksistensi.
Juga cinta……

Prolog



Apa khabar?

Kutulis surat ini, sementara kubiarkan senyummu sesekali lindap di belakang benakku. Ingin kutulis semua yang tak satu potongpun bisa kusampaikan langsung padamu. Ketika tidak mungkin lagi aku menyentuhmu di luar bayangan yang ada di kepalaku sendiri.

Aku harus berhenti sejenak dari perjalanan kali ini, my solitary journey, perjalanan menemukan apa yang berharga dari hidup. Karena tiba-tiba ada yang terasa begitu dekat dan indah, membuncah-buncah di kepala dan dada, dengan kehadiranmu. Sampai batas tertentu aku tetap saja begerak antara superego, ego dan pertanyaan-pertanyaan yang harus aku jawab sendiri tentangmu. Dan sebuah ide yang tidak hanya bermakna tunggal. Tapi itu tidak mungkin lagi. Eksistensiku tidak punya arti apa-apa lagi buatmu, jika aku tetap bertahan seperti yang sering terlalu indah kubayangkan. Selalu saja kemudian aku merasa begitu tolol menafsirkan semuanya. Tidak pernah selesai dengan kalimat-kalimat pendek dengan satu kesimpulan.

Kita tak punya cukup mantera untuk menyihir dunia mimpi yang indah ini terus menerus. Kita bahkan kehabisan kata, lalu sesekali akan terucap bahwa cinta kita mungkin “nonsens”, pun rindu yang pahit ini. Dan aku tidak bisa bertahan pada batas mimpi dan kenyataan. Tak ada ruang, untuk menggemakan rindu yang menggigil, memanggilmu untuk datang. Seorang penyair menulis:
….
bukankah matahari telah bersalin dan
melahirkan kenyataan yang agak lain?
dan sebuah jadwal yang lain?
sebuah ranjang & ruang rutin, yang setia,
seperti sebuah gambar keluarga
(dimana kita, berdua, tak pernah ada?)


Bukankah kita sering kemudian lantas jadi lebih mudah lupa dan memaafkan? Oh tidak, barangkali kali ini bahkan tidak ada maaf. Tidak untuk sesuatu yang sekonyol yang bisa kubayangkan dari orang yang melihat tentang kita. Di sela-sela kode-kode program yang aku tulis, seringkali gemerlap pikiranmu atau kerling matamu menyelinap, membuatku mesti berhenti sejenak, sekedar menyeka peluh. Betapa susahnya ternyata, melakukan apa yang sering aku tertawakan sendiri, melupakanmu…

Tapi kamu tak perlu kuatir, ada mekanisme tertentu padaku yang diturunkan dari tradisi. Dimana pada tiap jebakan kebuntuan rasa dan nalar, aku melarikannya dengan menertawakan diri sendiri. Ah, betapa konyolnya…! But It works. Tidak semua hal memang bisa dijelaskan dengan sempurna: kenapa atau bagaimana. Kadang tetap saja tinggal seperti itu, apa adanya. Seperti karang dan lokan di laut sana, begitu saja ada, entah untuk apa disana, dan kita bisa menerimanya.

Aku mencurigai pikiranku sendiri. Seperti aku bilang, aku bisa jadi subversif dengan semua pikiranku tentangmu, misalnya dengan melepas semua atribut yang ada padamu, dan merampokmu habis-habisan. Kenapa setiap pikiran tentangmu singgah membenturi jidatku, aku selalu bilang sendiri, ah…semuanya akan baik-baik saja. Dan aku lihat semuanya jadi begitu manis, terlalu mengesankan untuk begitu saja dilewatkan. Aku senang bahwa itu karenamu. Tapi tentu aku akan lebih bahagia, kalau itu karena rasa syukur yang tak putus-putusnya pada-Nya, the Ultimate Love. Ini bukan ungkapan formal, karena aku memang lebih suka menyimak isyarat cinta yang dikirimkannya dari setiap bulir gerimis yang memerciki kaca jendela, di sebuah senja yang sederhana. Kalau saja bisa kukirimkan potongan senja seperti itu ke setiap orang yang aku cintai. Kalau saja ada sebuah ruang tanpa batas dimana rindu dan cinta bisa menggema sempurna, barangkali tak akan ada yang begini pahit, atau serasa percuma saja. Meski kita berdua tak ada disana.

Aku tahu ini cuma sepenggal perjalanan panjang yang mesti kita lewati. Setiap orang sedang menuju ke suatu tempat dengan caranya masing-masing. Pada tiap penggalan kita susun jadi bilik di sudut hati tempat kita mengais-ngais hikmah. Tidak ada yang salah dengan semua yang serba sederhana kita pahami, semua yang nampak percuma tapi bermakna. Kadang justru perasaan luar biasa itu, adalah bentuk ketakjuban pada sesuatu diluar kita, something we felt beyond ourself. Orang bijak bilang, butuh lebih banyak ketulusan dan kerendahan hati untuk mengapainya. Jadi? adakah yang lantas luar biasa karenanya?
Bahkan sajak sempurna adalah kesenyapan itu sendiri.
Sesuatu yang menyelinap diam-diam, dan kita memahaminya meski tanpa diucapkan.
Seperti sebuah eksistensi
juga cinta